Langsung ke konten utama

Ucapan itu Emang Doa

Gue baru sadar, ternyata apa yang gue bilang di postingan gue yang ke dua (Porsi yang Pas dari-Nya) itu beneran kejadian. Di akhir gue sempat bilang "Sekarang bagi gue swasta atau negeri ga masalah, kembali ke diri masing-masing. Bagaimana kita bisa mengoptimalkan diri kita". Dari situ, entah kenapa diri gue seolah terpacu untuk mengoptimalkan kemampuan yang gue bisa, kemampuan yang ada dalam diri gue. Ini rasanya lebih bersemangat dibandingkan saat gue SMA dulu.

Dan di postingan yang sebelum ini (saat candaan berubah konteks) itu adalah salah satu bumbu dari masa-masa gue yang berusaha (nyolong start) satu langkah lebih dahulu dari temen gue. Sebenarnya niat gue bukan untuk satu langkah lebih dari temen-temen gue (orang lain), tapi satu langkah maju dan lebih baik dari diri gue yang sebelumnya. Kalau sebelumnya gue banyak leha-leha, gue sekarang pengen banget berusaha buat enggak leha-leha lagi. Belum saatnya gue buat santai.

Tapi karena saat itu gue lebih tertarik untuk terpacu soal akademik, sekarang alhasil gue mulai meninggalkan organisasi yang udah gue cintahh banget (padahal gak niat begitu). Tapi insya Allah semua gak ada yang percuma kok, di depan pasti gue nemu jawaban yang udah di rancang Allah biar gue nemuin jawaban itu.

Intinya, saat kita terpacu dan fokus akan sesuatu lalu kita mencatatnya (dalam tulisan, pikiran, niat, dll) itu otomatis bakal jadi doa dan tersimpan di alam bawah sadar kita, sehingga otak kita (tanpa disadari) sedang menuju ke arah apa yang benar-benar ingin kita capai, dan tentunya dengan seizin Allah juga.

Komentar

Posting Komentar

kamu bebas berkomentar di sini

Postingan populer dari blog ini

Welcome to The Real World (khusus untuk anak SMA yang baru lulus)

Kali ini, gue mau cerita seputar pengalaman gue di bidang akademik selama menjalani kuliah 1 tahun alias 2 semester. Tapi, sebelum kita caww ke cerita gue, gue mau ngucapin congratulations and welcome to the real world buat temen-temen yang sudah diterima di universitas yang diimpikannya. Dan buat temen-temen yang belum dapat, tenang, masih bisa berjuang di tahap ujian mandiri atau pilih swasta juga tak masalah ya kan! Dan buat temen-temen yang belum dapat juga, jangan khawatir yo, kamu tak sendirian karena gue pribadi pun, pernah mengalami masa-masa penuh dengan rasa minder, hehe tapi harus tetap yakin kamu bisa melewati ini semua! (buktinya gue masih hidup) :D Jadi begini, pertama kuliah itu transisinya amat sangat terasa. Kamu harus belajar dengan sistem yang berubah 180⁰, benar-benar tak seperti SMA.  Selain sistemnya beda, waktu KBM pun lebih lama. Dan yang paling penting, jangan kaget dengan manusia yang paling berlagak ala-ala dewa ( uhukkk ) dosen maksudnya. Kenapa a...

Belum Ada Judul (2)

Belakangan ini gue merasa “bukan puput banget”. Dari mulai keinginan untuk hijrah, dari kebiasaan yang udah mulai berubah, dari pergaulan yang mulai beda, dari ikut-ikut kegiatan yang udah mulai pindah haluan, intinya ini sedikit keluar dari zona nyaman. Entah perasaan gue atau memang bener, gue merasa gak bisa mengembangkan diri gue, progres untuk mengembangkan potensi diri malah menurun setelah gue kuliah -_- Terkadang gue sedikit iri melihat temen-temen gue yang terus meningkat di bidangnya, yang ikut-ikut organisasi yang udah keren, yang hijrahnya kayaknya udah istiqomah, yang mulai bisa mencapai impiannya. Mereka terlihat bahagia, dan dengan bangga menunjukkan kebahagiaannya pada dunia. Tapi tidak dengan gue. Gue sampai sekarang masih mencari. Terkadang gue merasa nyaman pada suatu posisi, tapi setelah dipikirkan ternyata ini bukan gue. Entah apa yang salah. Tapi beberapa orang pun mulai merasa kalau gue memang beda, gak kaya dulu. Gue gak tau maksudnya ‘gak kaya dulu’ itu...

Menulis: Satu Pekerjaan, Empat-Lima Hal Disadari

Bisa dibilang, mungkin saya termasuk orang yang sangat suka dunia kesastraan. Meskipun memang, saya baru sekadar (hanya) penikmat karya sastra dan sedang belajar meniti jalan ‘membuat karya’. Belum berada pada tahap menghasilkan ‘karya hebat’ sebagaimana para Sastrawan Indonesia lainnya. (Tapi nanti insya Allah, ya. Doakan saja) Jujur saja, saya menyadari hal ini baru sekitar dua tahun lalu, tepatnya pada awal tahun 2018. Saya masih sangat ingat, waktu itu adalah akhir semester 3 perkuliahan. Teman saya tiba-tiba berkata, “Put, menurut gue, elu ada bakat nulis deh”. Saya terkejut mendengarnya. Sedikit tersanjung (memang), tapi lebih merasa geli dan lucu. Saya menjawabnya sambil tertawa, “Apaan, sih! Haha… ada-ada aja, lu!”. Dia menjelaskan dengan kalimat lebih kurang seperti ini, “Eh, beneran. Menurut gue, elu punya kepekaan dan pemahaman yang lebih tentang kepenulisan dibandingkan gue dan temen-temen yang lain”. Hari berlalu, ucapan teman saya sukses membuat saya ...