Langsung ke konten utama

Porsi yang Pas dari-Nya

Gue belum keterima kuliah dimana-mana, bahkan gue udah tiga kali ditolak sama PTN impian gue. Di situ gue ngerasa betapa amat sangat bodohnya gue, saat orang-orang di sekitar gue udah pada hebat, ada yang keterima di PTN impiannya lewat jalur SNMPTN, SBMPTN dan Ujian Mandiri, ada yang Juara OPSI Kabupaten dan lanjut ke tingkat Nasional, ada yang bisa ikut ke Lombok gratis dan ikut Kongres Anak Indonesia di sana, ada yang jadi Duta Anak Jawa Barat, ada yang udah pernah jadi Duta Remaja, ada yang jadi ketua organisasi tingkat kabupaten, ada yang udah pernah ke luar negeri gara-gara prestasinya, ada yang udah jadi pembicara dan sering dipanggil kemana-kemana bahkan sampai ke luar pulau, ada yang ikut organisasi-organisasi internasional dan namanya udah famous banget, dan masih banyak lagi. Sedangkan gue untuk masuk PTN aja ngga bisa. Di situ gue ngerasa diri gue ga ada kelebihannya sama sekali.

Malam itu saat pengumuman hasil Seleksi Mandiri Masuk PTN, bener-bener gue berharap gue bakal lolos dan keterima. Ternyata hasilnya nihil. Air mata gue jatuh sejatuh-jatuhnya. Tapi saat itu juga gue sadar, banyak banget hikmah yang bisa gue ambil. Gue nganggep itu tamparan dari Allah dan gue bersyukur hanya ditampar lewat jalan itu aja. Kenapa gue bilang ‘ditampar’? Ya, gue sekarang sadar, saat gue flashback SNMPTN gue ga keterima, itulah Allah mengingatkan bahwa pilihan itu salah. Lalu saat SBMPTN ga keterima juga, itulah teguran sambil Allah mencolek gue kalau pilihan itu tuh ga baik buat gue. Tapi karena gue ga sadar-sadar, Allah akhirnya menampar gue dengan cara-Nya. Gue ga lolos lagi.

Gue tersadarkan banget, benar-benar tersadarkan. Mungkin selama ini gue terlalu mendikte Allah, terlalu memaksakan kehendak gue, terlalu percaya diri, tidak melihat kadar kemampuan diri,  bahkan mungkin terselip kesombongan dalam hati gue.

Alhamdulillah akhirnya gue ikhlas, gue pasrahkan semua pada-Nya. Walaupun ini sulit, tapi bersama kesulitan pasti ada kemudahan “fainna ma’al ‘usri yusro inna ma’al ‘usri yusro” dan gue tahu, Allah pasti memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya sekalipun menurut kita itu ga baik, karena Allah Maha Mengetahui sedangkan kita tidak.

Dan ingat guys, semua orang benar-benar memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bergantung bagaimana cara kita untuk benar-benar memanfaatkan kelebihan itu tanpa kesombongan sedikitpun, dan bagaimana kita menminimalisir kekurangan kita tanpa merasa rendah diri. Rendah diri itu tak baik tapi rendah hati itu harus.

Yakinlah semua orang sudah disiapkan sesuai porsinya masing-masing. Tugas kita sebagai manusia hanya beribadah pada-Nya dan pasrahkan semua keputusan pada tangan-Nya. Tapi kita tetap harus usaha, berdoa, dan tawakal. Karena usaha dan hasil pun tidak akan saling mengkhianati.
Dan sekarang gue lagi mengusahakan di swasta dan beasiswa full disitu. Inilah hikmah yang langsung gue dapat. Mungkin kalau gue keterima PTN, orang tua gue terkendala biaya karena kan lewat jalur ujian mandiri, mungkin gue sombong juga.



Sekarang bagi gue swasta atau negeri ga masalah, kembali ke diri masing-masing. Bagaimana kita bisa mengoptimalkan diri kita. ;)

Komentar

  1. semangat terus yaa puput, ceritanya nyentuh dan motivasi jga wkwk, yg jelas memang Allah punya rencana yg lebih baik dan teramat baik untuk umat nya, dan tergantung umat nya menghadapi ujuian atau menyadari tamparan yg baik untuk dirinya :)

    di tunggu post selanjutnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahh alhamdulillah ya hehe thanks difa.
      Yappp betul sekali :)

      Okee coming soon yaa :D

      Hapus
  2. Semanggatttss puput, Allah tau maha tau kok mana yang terbaik buat hambanya, Memang mungkin rezeki kita ngalir bukan pada PTN, gak ngaruh PTN maupun PTS yang penting skill dari diri masing masing put, mungkin dengan kita di PTS,akan lebih sukses Aamiin.... semangat truzzz put hehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya ki makasih. Aamiiin sukses jga ya kii :)

      Hapus

Posting Komentar

kamu bebas berkomentar di sini

Postingan populer dari blog ini

Manusiawi

Tertarik pada lawan jenis memang sudah menjadi hal yang lumrah alias manusiawi. Tapi bukan berarti kita harus selalu mengungkapkan ketertarikan yang kita rasakan kepada orang tersebut, Walaupun memang munafik rasanya untuk bersikap seolah tak merasakan perasaan itu. Disini adalah soal bagaimana kita bisa mengolah perasaan itu dan merapikan hati kita hingga pada saat yang tepat akan tiba waktunya untuk bersemi sebagaimana mestinya. Tak perlu khawatir soal dia, entah dia itu adalah yang kamu pikirkan atau dia yang memikirkanmu atau mungkin dia yang sedang memantaskan diri tapi belum mengenal bahkan belum pernah bertemu denganmu sama sekali. Kita tak pernah tau. Bersikaplah sewajarnya saat kau merasakan itu, tak usah berlebihan. Sesuatu yang berlebihan tentu tidak akan baik. Kalaupun seandainya saling merasakan dan mungkin saling menyadari, biarkan perasaan itu ada, mengalir sampai muara. Tidak berusaha dihilangkan, tidak juga berusaha dipaksakan. Tetaplah saling menjaga hati...

Berbicara Menikah

Banyak yang alergi membicarakan ini, termasuk mereka yang lahir di tahun 90-98an (yang masih menjomblo). Orang-orang yang alergi itu biasanya yang menganggap kalau menikah itu “hanya tentang penyaluran hasrat”, jadi yang membicarakannya terkesan orang yang ganjen. SALAH BESAR. Berbicara menikah gak sekedar tentang itu, tapi jauh lebih luas. Berbicara menikah berarti berbicara tentang bagaimana generasi masa depan nantinya. Apa hubungannya? Ya jelas ada hubungannya banget. Ini bukan pembelaan ya. Tapi coba kita pikirkan lagi, kalau kita gak pernah membicarakan menikah, apakah kita akan belajar tentang parenting, komunikasi keluarga yang efektif, perkembangan anak, expert mommy and daddy, dan segala macam terkait kehidupan keluarga? Sepertinya tidak. Hanya karena menikah menjadi salah satu tujuan yang akan dicapai, orang-orang mulai belajar tentang hal-hal yang menunjang keberlangsungan kehidupan keluarga yang baik. Tapi sayang banget, masih banyak juga yang gak peka ...